Nganjuk - Pembukaan Workshop KBC FKMIS Pokja 1 Kabupaten Nganjuk digelar di MI An Nur Gemenggeng pada Selasa, 12 Mei 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Mendidik dengan Hati, Mengajar dengan Cinta” dan diikuti oleh seluruh guru sertifikasi Pokja 1 dari wilayah Kecamatan Berbek, Sawahan, Ngetos, Loceret, dan Pace.
Kegiatan tersebut dibuka secara langsung oleh Abdul Rahman didampingi Ketua FKMIS Kabupaten Nganjuk, Muhammad Asrofi, serta jajaran pengawas madrasah.
Workshop ini menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan madrasah, khususnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) swasta di wilayah kerja Pokja 1 Kabupaten Nganjuk. Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi, kreativitas, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Dalam sambutannya, Muhammad Asrofi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari workshop serupa yang sebelumnya telah dilaksanakan di UPDN Kabupaten Nganjuk. Ia menuturkan bahwa program Workshop KBC FKMIS akan diikuti oleh lebih dari 600 guru MI swasta se-Kabupaten Nganjuk secara bertahap.
“Khusus untuk Workshop Pokja 1 ini diikuti oleh 99 peserta dari seluruh MI swasta di wilayah kerja Pokja 1,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kakankemenag Kabupaten Nganjuk, Abdul Rahman, menegaskan bahwa guru merupakan pembelajar sejati yang harus terus memperbarui pengetahuan dan kompetensinya sesuai perkembangan zaman.
Menurutnya, memasuki era digital dan berkembangnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Oleh karena itu, guru dituntut mampu beradaptasi serta memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
“Optimalisasi penggunaan AI harus dilakukan dengan tepat dan semestinya. Guru masa kini harus adaptif terhadap perkembangan zaman agar tidak tertinggal oleh perubahan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak saat ini hidup di lingkungan digital dengan arus informasi yang sangat terbuka, baik yang berdampak positif maupun negatif. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena peserta didik menerima berbagai informasi di usia yang secara psikologis masih dalam tahap perkembangan.
Karena itu, peran guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan penguat karakter peserta didik di tengah derasnya perkembangan teknologi informasi.
Menutup sambutannya, Abdul Rahman mengajak seluruh guru madrasah untuk terus menunjukkan profesionalisme dan semangat belajar sepanjang hayat.
“Mari kita tunjukkan bahwa guru madrasah adalah pembelajar profesional sejati yang memiliki resiliensi dan mampu menjawab tantangan perkembangan dunia pendidikan,” pungkasnya.

