Pengajian Rutin TP PKK, DWP dan KORPRI Nganjuk Tekankan Pentingnya Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
DWP
ptsp.kemenag.kab.nganjuk+DWP@placeholder.com
Nganjuk — Pengajian Rutin TP PKK,
DWP dan KORPRI Kabupaten Nganjuk kembali digelar sebagai sarana mempererat
silaturahmi sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Kegiatan tersebut
diisi dengan santunan anak yatim serta mauidzoh hasanah yang mengangkat tema
tentang pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan
pembukaan oleh panitia, dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak
yatim. Suasana semakin khidmat ketika Mahalul Qiyam dilantunkan dengan iringan
Hadroh Himmatul Jadid Prambon.
Kegiatan kemudian dilanjutkan
dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan sari tilawah. Dalam sambutannya, Ketua
Panitia Pengajian Rutin PKK dan DWP Kabupaten Nganjuk menyampaikan rasa syukur
atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Semoga kegiatan pengajian rutin ini
senantiasa memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” ungkapnya.
Memasuki acara inti, peserta
mendapatkan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Nur Hasan. Tausiyah
diawali dengan bersholawat bersama, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian
materi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan
akhirat.
KH. Nur Hasan mengajak para
jamaah untuk terus memperbanyak prestasi dan berkarya, namun tetap memiliki
kontrol diri dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. Menurutnya, manusia
perlu mampu meredam diri serta menjaga hati dan perilaku agar kehidupan yang
dijalani tetap berada dalam koridor kebaikan.
Dalam tausiyahnya, KH. Nur Hasan
menyampaikan sejumlah tanda orang yang memiliki karakter ahli surga. Di
antaranya adalah memiliki wajah yang berseri-seri dan murah senyum, mudah
memberikan bantuan kepada sesama, memiliki hati yang bertakwa serta tidak mudah
berprasangka buruk kepada orang lain.
Selain itu, seseorang hendaknya
membiasakan lisannya untuk berdzikir. Setiap aktivitas yang dilakukan juga
dapat diniatkan sebagai ibadah. Ia mengingatkan bahwa salah satu tanda orang
bertakwa adalah memiliki sikap mudah memaafkan kesalahan orang lain. Lebih
lanjut, ia mengingatkan agar manusia tidak terlalu larut dalam kehidupan dunia
hingga melupakan kehidupan akhirat. Kebahagiaan dunia dan akhirat dapat
diupayakan melalui sikap sabar, ikhlas, dan istiqomah.
Sabar diperlukan dalam menghadapi
takdir maupun berbagai persoalan kehidupan tanpa menanamkan kebencian di dalam
hati. Sementara ikhlas perlu dibarengi dengan sikap qanaah atau menerima dan
mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT. Adapun istiqomah dapat
diwujudkan dengan membiasakan diri membaca Al-Qur'an, melaksanakan salat, dan
terus menuntut ilmu agama. Kehidupan dunia diibaratkan seperti seseorang yang
sedang merantau, sehingga sifatnya hanya sementara dan harus diisi dengan amal
kebaikan sebagai bekal kehidupan akhirat.
Ia turut menyampaikan beberapa
amalan yang dinisbatkan kepada KH. As'ad Syamsul Arifin Situbondo, di antaranya
memperbanyak istighfar sebagai upaya membersihkan hati, membaca Sholawat Jibril
sebagai ikhtiar memohon terkabulnya hajat, serta membaca basmalah sebanyak
1.000 kali. Menutup tausiyahnya, KH. Nur Hasan mengajak seluruh jamaah untuk
menjalani kehidupan dengan sederhana. Kehidupan dunia yang bersifat sementara
hendaknya tidak menjadi tujuan utama, tetapi diisi dengan berbagai amal ibadah
dan kebaikan.