Saring Sebelum Sharing, Mahasiswa Magang Kemenag Nganjuk Turut Jadi Representasi Pemuda Lintas Agama
humas
kabnganjuk@kemenag.go.id
Nganjuk — Kerukunan tidak hanya diuji dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga di ruang digital. Di tengah derasnya arus informasi dan mudahnya penyebaran berita di media sosial, generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan teknologi menjadi jembatan persatuan, bukan sumber perpecahan.
Pesan tersebut mengemuka dalam
Dialog Pemuda Lintas Agama dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda Tahun
2026 yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur,
Rabu (28/10/2026). Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk turut
berpartisipasi dalam kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom
Meeting dengan pola hybrid tersebut.
Menariknya, Kemenag Nganjuk
turut melibatkan mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dari
Program Studi Manajemen Pendidikan Islam yang saat ini sedang melaksanakan
program magang di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nganjuk. Kehadiran para
mahasiswa tersebut menjadi representasi generasi muda dalam forum dialog lintas
agama sekaligus wujud keterlibatan pemuda dalam merawat kerukunan dan
memperkuat persatuan bangsa.
Partisipasi ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung pentingnya moderasi beragama, toleransi, serta tanggung jawab generasi muda dalam menghadapi tantangan kehidupan sosial, khususnya di ruang digital.


Mengusung tema “Saring
Sebelum Sharing: Peran Pemuda Lintas Agama Rawat Ruang Digital untuk Wujudkan
Indonesia Rukun, Berdaulat, Adil dan Makmur”, dialog ini menjadi ruang
perjumpaan gagasan sekaligus penguatan komitmen generasi muda dalam menjaga
persatuan di tengah keberagaman.
Kegiatan diawali dengan
laporan panitia oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Jawa
Timur, dilanjutkan sambutan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi
Jawa Timur.
Memasuki sesi utama, dialog
menghadirkan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI
yang mengulas pentingnya menyaring informasi sebelum membagikannya sebagai
bagian dari upaya merawat kerukunan di ruang digital. Narasumber berikutnya,
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Timur, membahas
peran pemuda lintas agama dalam menjaga stabilitas daerah dan meredam isu-isu
sensitif di media sosial. Seluruh dialog dipandu oleh Dr. AW. Effendy.
Diskusi dan tanya jawab
menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Para peserta diajak memahami bahwa
informasi yang belum terverifikasi, komentar provokatif, maupun narasi yang
mempertentangkan identitas agama dapat memicu kesalahpahaman dan mengganggu keharmonisan
masyarakat.
Karena itu, literasi digital perlu berjalan beriringan dengan sikap toleran, kedewasaan berpikir, dan tanggung jawab sosial. Pemuda lintas agama tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga perlu tampil sebagai pelopor penyebaran informasi yang menyejukkan, memperkuat persaudaraan, dan menghargai perbedaan.
.jpeg)
.jpeg)
